Selasa, 27 Januari 2009

Kegunaan Coca-Cola


Kegunaan Coca-Cola

Coca-cola ngga cuma bisa buat diminum, ternyata ada kegunaan yang lain. Simak deh:

1. Untuk membersihkan toilet:
Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam toilet. Tunggu sejam, kemudian siram sampai bersih. Asam sitric dalam Coca-Cola menghilangkan noda-noda dari keramik .

2. Untuk membersihkan karburator mobil:
Campur sekaleng Coca-Cola ke dalam karburator. Panaskan mesin 15-30 menit. Dinginkan mesin, setelah itu buang air karburator. Anda akan melihat karat yang rontok bersama air tersebut.

3. Untuk menghilangkan titik-titik karat dari bumper/chrome mobil:
Gosok bumper dengan gumpalan alumunium foil yang direndam dalam Coca-Cola .

4. Untuk membersihkan korosi dari terminal aki mobil:
Tuangkan sekaleng Coca-Cola di atas terminal aki untuk membersihkan korosi.

5. Untuk melonggarkan baut yang berkarat:
Gosokkan kain yang direndam dalam Coca-Cola pada baut yang berkarat .

6. Untuk menghilangkan noda-noda lemak pada pakaian:
Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam tumpukan cucian yang bernoda lemak, tambahkan detergent, dan putar dengan putaran normal.
Coca-cola/Pepsi akan menolong menghilangkan noda lemak.
Coca-Cola juga membersihkan kabut pada kaca depan mobil.
Kita minum Coca-Cola/Pepsi! Tentu saja juga untuk membersihkan sistem kita...???
Lagipula kita semua membayar untuk itu.

Untuk Perhatian:

PH rata-rata dari soft drink, a.l. Coca-Cola & Pepsi adalah 3.4.
Tingkat keasaman ini cukup kuat untuk melarutkan gigi dan
tulang!
Tubuh kita berhenti menumbuhkan tulang pada usia sekitar 30th. Setelah itu tulang akan larut setiap tahun melalui urine tergantung dari tingkat keasaman makanan yang masuk.
Semua Calcium yg larut berkumpul di dalam arteri, urat nadi, kulit, urat daging dan organ, yang mempengaruhi fungsi ginjal dalam membantu pembentukan batu ginjal.

Soft drinks tidak punya nilai gizi (dalam hal vitamin dan mineral). Mereka punya kandungan gula lebih tinggi, lebih asam, dan banyak zat adiktif seperti pengawet dan pewarna.

Sementara orang suka minum soft drink dingin setelah makan, coba tebak apa akibatnya?
Tubuh kita mempunyai suhu optimum 37 supaya enzim pencernaan berfungsi.
Suhu dari soft drink dingin jauh di bawah 37, terkadang mendekati 0. Hal ini mengurangi keefektivan dari enzim dan memberi tekanan pada sistem pencernaan kita, mencerna lebih sedikit makanan.
Bahkan makanan tersebut difermentasi.
Makanan yang difermentasi menghasilkan bau, gas, sisa busuk dan racun, yang diserap oleh usus, diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Penyebaran racun ini mengakibatkan pembentukan macam-macam penyakit.

Beberapa Contoh:
Dua bulan lalu, ada sebuah kompetisi di Universitas Delhi; Siapa dapat minum Coca-Cola paling banyak??
Pemenangnya meminum 8 botol dan mati seketika karena kelebihan Karbondioksida dalam darah dan kekurangan oksigen. Setelah itu, Rektor melarang semua soft drink di semua kantin universitas.

Seseorang menaruh gigi patah di dalam botol pepsi, dan dalam 10 hari gigi tersebut melarut! Gigi dan tulang adalah satu-satunya organ manusia tetap utuh selama tahunan setelah manusia mati.
Bayangkan apa yang minuman tersebut pasti lakukan pada usus dan lapisan perut kita yang halus!

Derita Hidup Seorang Ayah

Derita Hidup Seorang Ayah

Saat usiaku masih muda, aku adalah seorang pekerja keras yang tak ingin merepotkan kedua orang tuaku dakam membesarkan dan membiayai pendidikan. Aku kerap berusaha sendiri dengan berbagai cara yang menurutku sanggup aku kerjakan. Dan kedua orang tuaku juga mendukung apa yang menjadi keputusanku. Bahkan mereka merasa bangga dengan anak bungsunya.
Begitupun saat aku akhirnya menemukan jodohku, seorang perempuan cantik dan penuh kasih sayang. Hingga akhirnya kami mampu membesarkan dan membiayai semua kebutuhan tiga anak kami, bahkan sampai mereka dapat menyelesaikan pendidikan sampai dengan perguruan tinggi. Karena aku tak mau melihat anak-anak menderita seperti aku yang membiayai semua kebutuhan dengan usaha sendiri.
Kami memang berhasil membiayai mereka, namun rupanya kami tak berhasil mendidik mereka menjadi orang yang peka terhadap penderitaan sesama. Jangankan kepada orang lain perhatian terhadap orang tuanyapun seperti tak pernah mereka tunjukan. Awalnya aku mengganggap hal sebagai hal yang lumrah, mungkin mereka masih terlalu muda untuk hal itu.
Namun ternyata anggapan itu sangat keliru. Saat mereka sudah berhasil dalam meraih kehidupan termasuk telah behasil dalam membina rumah tangga mereka tetap melupakan rasa peka terhadap penderitaan, kesepian dan kehidupanku sebagai orang tua mereka yang sangat membutuhkan kehadiran mereka, bukan harta mereka
Penderitaanku dimulai saat istriku tercinta meninggal dunia karena sakit yang berkepanjangan. Sejak kepergian istri, tinggallah aku hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidupku rasanya hilang, tiada lagi anak-anak yang mau menemani setiap saat aku memerlukan mereka.
Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjengukku ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulungku datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh aku dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga aku menyetujuinya karena toh aku juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang aku kasihi di dalamnya.
Setelah itu aku ikut dengan anakku yang sulung. Tapi apa yang aku dapatkan? Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada dirumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa. Semua keperluanku pembantu yang memberi. Untunglah aku selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua aku tidak pernah sakit-sakitan.
Setelah beberapalama tinggal bersama si sulung, lalu aku tinggal dirumah anakku yang lain. Saat itu aku berharap yang yang kualami di rumah si sulung tak terjadi lagi, namun harapan tinggalah menjadi harapan. Di rumah ini aku justru mendapatkan lagi penderitaan bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mereka mengganti semua peralatan yang aku pakai dengan peralatan dari kayu dan plastik, dengan alasan untuk menjaga keselamatanku Setiap hari aku makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?
Akhirnya aku tinggal dengan anakku yang terkecil, anak yang dulu sangat aku kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan banyak kebahagiaan pada kami semua. Setelah beberapa lama aku tinggal disana akhirnya anakku dan istrinya mendatangi aku lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirimku untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya aku punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungiku.
Sekarang sudah tiga tahun aku disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi, apalagi membawakan makanan kesukaanku. Hilanglah semua harapan tentang anak-anak yang aku besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Aku kadang bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tuaku demikian menyedihkan. Padahal aku bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta yang aku kumpulkan mereka ambil. Dan aku tidak mempermasalahkan itu, aku hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.
Terkadang aku menyesali diri mengapa aku bisa melahirkan anak-anak yang demikian kejam. Untunglah di panti ini aku bisa mendapatkan banyak teman, dan juga kunjungan dari sahabat-sahabatku dulu, tetapi walau bagaimanapun aku merindukan anak-anakku untuk sekedar datang dan memelukku, itu saja permintaanku sebelum aku dijemput ajal yang mungkin sebentar lagi akan datang.

Senin, 26 Januari 2009


Pohon Tua


Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon
rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang.
Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon
itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana.
Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya.
Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka
dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan
teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka
kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang
itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan
dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap
selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar
perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan.
Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan.
Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang
dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana.
Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang
Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau
mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku
miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan.
"Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu
merasakan siksaan ini?" Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya
yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang
pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin
kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi
malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit. ..cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, ada seekor
anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

"Cittt...cericirit. ..cittt," suara itu makin keras melengking. Ada
lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu
atas kelahiran burung-burung baru. Satu... dua... tiga... dan empat
anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru
sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu.
Mereka,akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang
kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau
bersarang disana.

Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang
kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih
beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini",
gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah,
hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di
dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang
pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan
pengabdiannya pada alam.

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah
memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan
kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan
jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu
mudah ditebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain,
diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya,
bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati.
Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya
Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih
untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah,
sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari
rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan- Nya buat kita. Jangan
putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang
sabar.

DRACULA


Membongkar Sebuah Kebohongan & DUSTA

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula's Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)­yang dibuat ulang pada tahun 1979­dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi. Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu? Dalam buku berjudul "Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib" karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman­sebagai wakil Islam­dan Kerajaan Honggaria­sebagai wakil Kristen­semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel­ benteng Kristen­ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman. Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara­yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab­yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia: "Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami." Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut: "Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal." Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya. Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat­khususnya umat Islam sendiri­yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah. Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka­pahlawan dari pihak Islam­dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka. Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil. Selain yang telah dipaparkan di atas, buku "Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib" karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya. Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain­politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini­walaupun masih merupakan langkah awal­bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.